Category Archives: Fiksi

CINTA DIWARUNG KOPI

CINTA DI WARUNG KOPI

Category : Fiksi

Cinta di warung kopi. Tuan Mahmudin berhentikan Mobil BMW Type barunya di pelataran sebrang jalan sebuah tanah kosong itu.

Tuan tanah yang hartanya melimpah dan merupakan Orang Terkaya di Sebuah Kecamatan di Bilangan Jawa Barat itu merupakan orang terpandang di antara Tokoh-tokoh Masyarakat yang ada di sana  dan sangat di kenal oleh Warga di Sekitarnya sebagai orang yang dermawan dan baik hati karena menurut warga “Hanya” dialah orang yang mampu meberikan tanah Wakaf untuk sarana pendidikan dan tempat ibadat di sekitaran tempat tinggalnya.

Puja-puji tentang Tuan Mahmudin tersebut tidak hanya di arena yang di  bilang oleh warga sebagai orang yang paling budiman namun juga puja-puji tentang kebaikannya itu di akui rekan bisnisnya yang katanya kini terlibat dalam bisnis pasir besi di Pantai Selatan Jawa Barat,

“Dia orang yang baik banget,,!” Ucap Neng Dini gadis lulusan sebuah perguruan tinggi terkenal di Indonesia yang kini jadi sekertaris pribadinya si Tuan Kaya Raya yang  Budiman itu.

Mobil BMW mewah type baru itu telah terparkir , sang tuan melangkah ke tepian jalan guna keperluannya   “berkeinginan ngopi”  di sebuah warung kecil yang menurut dia (menurut pandangan matanya) warung itu serasa  enak tempatnya buat ngopi di sore yang gerimis itu.

Si tuan kaya raya itu memang bukan type orang yang apik dan sok elite dalam urusan ngopi ,dia kadang serampangan bila khoby ngopinya itu  telah sampai pada  “ubun-ubun”  keinginannya .Dimanapun dia pasti berhentikan kendaraannya walau di tempat ngopinya para warga lapisan kelas bawah sekalipun , begitupun di sore yang gerimis tersebut Tuan Mahmudin sengaja ingin mmenuhi hajat hariannya yang kini telah jadi khoby yang sulit di hilangkannya tersebut yaitu Ngopi Hitam.

“Assalamualaikuum,,!” Si Tuan ucapkan salam dulu ketika warung indah yang terletak di sebrang ujung jalan kampung sebuah wilayah batas sebuah Kabupaten di Jawa Barat tersebut terlihat tidak ada penghuninya,

“Mungkin lagi kebelakang dulu nih tukang warungnya,,!” Gumam hatinya si tuan Mahmudin.

“Waalaikuum Salaam,mari pak duduk maaf saya dari belakang dulu , ada yang bisa saya bantu pak,,!” sebuah suara Perempuan  menyeruak dari belakang Rumah si empunya warung kecil nan indah itu.

Keberadaan warung itu memang indah bila di lihat oleh seorang yang mengerti tentang tata letak bangunan , dan bangunan sederhana itu di design sebagai tempat yang nyaman di pinggiran sebuah kebun bambu di pojokan tempat yang bisa memandang kesemua arah bila pengunjung singgah di warung tersebut.

Bangunan yang di dominasi bahan bangunan dari  bambu hitam  dengan atapnya yang hanya terbuat dari ijuk itu indah sekali bila di teliti lebih cermat lagi oleh kita, bangku tempat duduk dari bambu hitam itupun Nampak asri di tempatkan di pinggiran warung yang terdesign indah ,

Warungan pecel dengan tatanan dagangan seadanya dari mulai bahan-bahan kebutuhan pokok,ikan asin,sayuran , tempe , tahu tertata apik di warung itu disimpan di dalam kaca yang di sett khusus agar lalat-lalat nakal tak mengerubungi dagangannya , memang sekilas bila di cermati tukang warungnya adalah seorang yang apik dan mengerti tentang tata-cara dagang yang baik , walau terletak di Ujung Kampung perbatasan sebuah Wilayah Kekabupatenan namun tatanan warungannya itu  sangat tertata dengan baik.

Tuan Mahmudin menoleh kearah datangnya  suara sang empunya warung , ketika dirinya sengaja membelakangi warung yang di sambanginya ,

Degh,,,, dadanya berdegup kencang, suara seorang Perempuan itu seakan mengingatkannya kepada suara halusnya seseorang yang ketika 35 Tahun yang lalu sangat di dambanya dan merupakan Cinta Pertama yang dimiliki oleh si Tuan Tanah yang kaya raya tersebut. Cinta di warung kopi

Dengan cepat lehernya bergamit menengok ke Arah Suara tukang Warung , dan……

”Halimah,,,!” Mulut Tuan Mahmudin hampir mengganga, namun darahnya menggelegak sesuatu emosi yang sulit tertuliskan dengan tulisan kata-kata menyentak jantungnya sang tuan tanah itu.

“KKKau,,Halimah bukan,,,?, Suaranya di tekan agar tak terlalu berisik.

“O,,Iya,,,ada apa bapak , memangnya bapak itu siapa ?” Suara Parau Seorang Perempuan pemilik warung menjawab pertanyaannya Tuan Mahmudin.

“Ough,,,kau mungkin lupa lagi pada saya Halimah,,aku adalah Mahmudin !” Nanar tatapan Tuan Mahmudin ke arah perempuan yang memang punya garis-garis wajah cantik namun kini telah sedikit tua itu , kerudung Warna Putih itu terpadu dengan bajunya yang  sederhana baju yang dipakai Wanita Bernama Halimah itu  bernuansakan batik murahan ala Ibu-ibu di perkampungan, wanita berumur 55 Tahun itu Nampak masih cantik dan menawan, tinggi semampai, sekal (Cakial)  dan terlihat cantik walau umurnya telah beranjak di penghujung umur tuanya.

Wajah sang pemilik warung berubah merah merona, terlihat wajah yang dulu cantik itu tetap menyimpan gurat-gurat kecantikannya, dan diapun mencoba menguatkan pandangannya ke Wajah Lelaki yang kini telah berumur sekitaran 58 Tahun itu.

“Ough,,, ya… kau kah itu abang,,,! Kenapa sampai di Rumahku abang apa kabarnya keluargamu abang… maaf mungkin waktulah yang telah melupakan wajah abang itu, mari duduk dulu aban ,,!”  Rikuh perempuan itu menjawab deraan pertanyaan dengan gejolak sebuah Nostalgia yang amat indah dalam hidupnya.

Hening suasana itu sesaat namun Tuan Mahmudin cepat mengambil sikap cendikianya dia secepatnya mengambil tempat duduk di bangku bambu hitam di pojokan warung kecil tersebut.

****************************************************************

Assalamualikuum,Wr,Wb;

Untuk Halimah Di Rumah

Di surat ini mungkin Abang tak usah menceritakan apa yang terjadi, mungkin kamupun telah mengetahuinya bahwa Orang Tuamu tetap tidak akan mengizinkan kau di kawini olehku, karena alasannya kamu seorang perempuan yang tidak akan di izinkan meninggalkan kampungmu oleh orang tuamu setelah kau di miliki oleh siapapun.

Di surat ini aku minta maaf atas semuanya itu, namun surat Putusanmu itu telah aku terima tadi sore, dan akupun mengerti, aku akan tinggalkan kampung halamanku bermaksud akan merantau ke Negri Orang guna menjalankan sebuah usaha di sana.

Aku mengerti tentang keadaanku, yang keluargamu anggap sebagai lelaki yang pengangguran, namun aku berjanji aku pasti ke hadapanmu guna membuktikan diriku bahwa aku bukanlah seorang pengangguran yang tidak punya harapan, namun untuk sebuah cerita hidup, kiranya akupun menerima keputusanmu yang memutuskan cintamu kepadaku hanya gara-gara hal tersebut.

Cinta itu tak akan terkatakan, namun cinta itu ada di dalam hati ini, abadi lah cintaku abadilah cintamu , doakan aku pergi dari sisimu;

Wassalamualikuum Wr,Wb ;

YANG AKAN TETAP MENCINTAIMU DAN BERJANJI KEMBALI KE HADAPANMU

(Mahmudin)

****************************************************************

“Abang,,,! Suratmu 35 tahun yang lalu itu aku tetap simpan dengan apik di lemari itu, aku bingung ketika itu namun sudahlah, kini aku telah punya banyak cucu dari ke empat Putri-putriku, dan kini suamiku telah meninggal dunia karena dulu dia bertugas di Perbatasan ketika Konfliks Timor-timur di sana masih di tangani oleh TNI Kita, dan sepeninggalnya suamiku 15 tahun yang lalu aku tidak pernah punya suami kembali, walau banyak yang datang kepadaku bermaksud ingin menikahiku, namun aku tolak dengan halus bahwa aku masih punya tanggungan yaitu ke empat Putri-putriku yang kini telah menikah, dan kebetulan ke 4 putriku itu merupakan putri-putri  kembar dari dua kali kelahiranku jadi Umurnya mereka mungkin tidak terlalu berjauhan satu sama lainnya!” Halimah duduk menundukan kepalanya  di dalam warung dengan nada  berat dia mencoba bicara apa adanya kepada Tuan Mahmudin.

“Sudahlah abang, aku telah tahu ceritamu tentang hidupmu yang kini telah kaya raya, cerita itu di peroleh dari salah satu karyawanmu yang mungkin kau tidak mengenalinya, karena kini katanya abang kan punya sekitaran 5000, orang karyawan dan karyawati ya ,,!” Halimah mengerlingkan matanya dari dalam warung kecil yang indah itu.

Sementara di Pojokan Warung itu nafas seseorang yang  tersengal tak terlihat oleh matanya  Halimah Janda energik yang kini  telah berumuran 55 tahun tersebut, Tuan Mahmudin Nampak mengeluarkan Rokok Cerutunya dari Dompet Cerutu yang mewah itu, Hoby Ngopinya seakan hilang di telan cerita indah yang kini hampir di reguknya kembali, Dia mencoba menguasai diri lalu terdengar berkata dengan suara yang bernada datar. Cinta di warung kopi.

” Halimah,, bisa kah kau mendekat ke arahku?, akupun bernasib  sama denganmu, Aku  telah di tinggalkan istriku 3 tahun yang lalu, dan kini anakku yang berjumlah 2 Orang itu semuanya di bawa suami-suami mereka Ke  luar Negri karena sedang menjalani sebuah bisnis di Negara Tetangga sana, aku hanya punya 2 orang cucu, dan kini cucuku di bawa oleh Orang tuanya, ya…  Kini di rumahku hanya seorang diri saja, dan ketahuilah ,,, Rumahku besar dan mudah-mudahan kau akan Betah di sana Halimah,,!” 

Tuan Mahmudin menekuk mukanya ketika Rokok Cerutunya di sedotnya dalam-dalam, gejolak hatinya telah dinyatakan atas ucapan yang terlontar barusan dengan percaya diri atas kata-katanya dia masih menunggu Cinta Sejati itu dapat di selamatkannya sekarang.

Halimah janda energik yang berumuran 55 tahun namun masih cantik dan sekal itupun mencoba menghampiri tuan mahmudin di pojokan warungnya , sinar wajahnya yang cantik itu Nampak memancar atas kedewasan sikapnya seorang Ibu-ibu yang punya tatakrama,

” Abang, aku mengerti dengan semua in , namun aku bukanlah Halimah yang dulu yang masih muda dan berumur 18 tahun, bagi abang mungkin masih banyak pilihan, di luar sana banyak yang mengincarmu walau umurnya masih muda-muda dan perawan sekalipun, lalu mungkin tidak akan mudah bagi abangpun nantinya bila bermaksud mempersuntingku, karena anak-anakmu mungkin harus di bawa bermusyawarah dulu ,,,!” Ucapan seorang Perempuan yang punya Wajah Menarik itu semakin menggerakan bathinnya Tuan Mahmudin.

” Halimah, kau masih cantik sayang,!”] hatinya Tuan Mahmudin bergejolak, di tatapnya perempuan yang 35 tahun lalu itu di rindukannya siang maupun malam.

“Halimah, semakin mendekatlah kepadaku, aku ingatkan kamu, bahwa Cintamu tak akan berubah oleh Zaman, aku tetap mencintaimu dan bermaksud akan mempersuntingmu sekarang juga, kita rencanakan dan kita urus keperluannya, kita bikin acara perkawinan itu semegah mungkin, anak-anaku tak usah di khawatirkan dia telah akan mengerti, dan merekapun merindukan seorang ibu pengganti ibunya yang akan membimbingnya kelak,” 

Puntung Rokok cerutu yang mahal itu belumlah sampai di ujung batas akhir sedotan mulutnya namun cepat cerutu itu   dia buang lalu dengan tanpa sungkan perempuan sekal nan sexi dan energik itupun di coba di rangkulnya dengan nuansa penuh kerinduan yang 35 tahun di pendamnya. Cinta di warung kopi.

Hujan yang tadinya hanya gerimis itu kini jadi hujan yang sangat lebat di luar warung Halimah, warung itupun di tutup Halimah sang janda yang kini menemukan cintanya kembali setelah berpuluh-puluh tahun hilang di telan masa, rumah tua di pinggiran Warung itu Nampak semakin hangat.

Mobil BMW Model Baru yang di parkir di sebrang jalan itu Nampak melaju pada pukul 21;00 WIBmenuju kearah barat dari kampung perbatasan itu menuju ke arah Kota di sana,

Halimah pun Nampak ikut di Mobil Mewah tersebut dengan di barengi para pengurus pemerintahan di kampungnya .

“Agar resmi tak bernuansakan kecurigaan dari lingkungan kampung ini, kau sekarang harus  membawa pengurus kampung daerah sini, untuk ikut ke Rumahku guna mengambil syarat-syarat perkawinan dari tempatku di Kota sana, aku kasih uang 30 Juta bagi pengurus kampung itu, untuk mengurus proses perkawinanku denganmu Halimah ,,,!” Ucapan itu terdengar berwibawa dari Mulutnya seorang Tuan Mahmudin sang tuan tanah yang kaya-raya.

Anginpun bertiup di balik kaca BMW Type terbaru tuan mahmudin, Halimah Nampak diam dengan senyum indahnya bermaksud menyongsong cintanya yang puluhan tahun hilang di telah awan…. Cinta di warung kopi.

Asep Rizal.

Ditulis di Kompasiana


Dirimu Kopi sebuah Senja

Dirimu, Kopi dan sebuah Senja

Lebih dari dua minggu saya baru ingat seorang teman dari kota seberang mengirimkan tulisan.  Katanya, “Hasil imajinasi sore, Dien. Biar tak lupa, segera ku kirim padamu. Bacalah jika kau ada waktu.”  Baru saja saya baca lagi, dirimu-kopi-dan sebuah senja….  Entah mengapa setelah membaca saya terdiam, semacam dejavu, entah bagaimana…  Dirimu Kopi sebuah Senja

Ruang dan waktu adalah sekat. Sedang ingatan menjadi bonus, mau disimpan atau dibuang, terserah. 

Pertemuan demi pertemuan silih berganti, dengan orang yang sama atau berbeda. Di antara ramai dan sepi, di antara perasaan nyaman dan tidak nyaman, di antara lelah dan payah atas hidup yang kadang membosankan tapi kadang begitu menyenangkan. 

Tetapi sesungguhnya hati punya cara sendiri untuk menyesuaikan rasa. Senja yang biasa misalnya, akan menjadi tak biasa sebab dipenuhi debar saat bertemu dengan seseorang yang sanggup menghadirkan perasaan-perasaan yang berbeda. Terkadang mata lebih banyak berbicara daripada bibir. Semacam membunuh waktu dengan pesona yang entah dari mana hadirnya. 

Saya seorang yang percaya senja dan kopi adalah sepasang sunyi yang menjelma puisi atau dongeng lengkap dengan kidungnya. Saya juga percaya setelah senja pergi atau kopi tandas, hidup tak sepenuhnya kosong. Ia menyimpan banyak rahasia. 

Dan pada akhirnya saya harus berkompromi dengan waktu. Berdamai dengan masa lalu. Sebab membuang kenangan tak semudah mematikan puntung rokok, melemparkannya ke tanah, lalu menggilasnya dengan ujung sepatu. 

Sebab cinta tak seharusnya menyakiti. Rindu biarlah berputar dalam lingkarannya sendiri.

Gelap, Gaduh, Gerimis

Dengan status (lumayan) dekat tanpa sering ketemu, satu-satunya komunikasi hanya lewat WhatsApp. Maka tak ada yang mengalahkan sensasi gaduhnya hati ketika bertemu langsung dengannya. Ngobrolin apa saja? Random. Coba simak, ini setelah lama puasa WhatsApp saking dianya repot. Sayanya sibuk, sibuk mikir gimana caranya nggak mikirin dia melulu.

“Sudah bahagia sepertinya..”                                                                

“Hay.. iya, banget! Chat sama kamu! Haha..”

“Sorry lagi ribet, banyak ini itu. Seperti yang sudah-sudah. Entahlah. Butuh upgrade.” 

“Enjoy the moment, dear. Hidup emang suka diselipi yang riweh-riweh. Jangan terlalu kenceng kalo nggak mau sakit kepalamu kumat lagi. Ngaca gih, keliatan tuaan sepuluh tahun “

“Hahaha…” 

“Sorry, but how do you feel?”

“Emm.. nggak baik-baik amat sih. Ah sudahlah. Tapi bener ada yang bilang, kalau udah nggak bisa connect mau gimana juga yang ada hambar doang.” 

“Iya. Tapi apapun jangan lupa bahagia.

“Sedang mencari.”

“Asyikin ajalah, banyak hal sederhana yang bisa bikin bahagia. Seperti chat begini hehe…”

“Hahaha.. kamu jadi kayak mbak itu dong.” 

“Yee beda kali. Dia absurd kebanyakan halu.” 

“Tapi kamu hebat, being single dan terlihat happy terus.”

“Gini, It’s my choice. Tapi ya namanya masih manusia, most days I’m fine, but in some days, i’m not fine. Nah ini berat. Masih kudu belajar menghadapi gelap dan terang dunia”

“Ya i know…”

“Eh lagi dimana?” 

“Di rumahlah, mau dimna lagi. Lagian gerimis, mana anginnya kenceng bener, mana lapar lagi duh…” 

“Gofood dong, jangan kayak orang susah deh. 

“Nggaklah. Makannya cuma berapa ongkirnya berapa. Kecuali bener-bener kepepet, bolehlah.” 

“Itu ngirit apa pelit?”

“Dua-duanya hahaha…” 

“Eh ketawa dia. Baguslah. Hari gini makin susah ketawa lepas. Kebanyakan apalah-apalah.”

“Iya makanya the best laugh itu pas kita bisa ngetawain diri sendiri yes? 

“Yes!”

“Jadi mari tertawa, nangisnya udah kan? Atau butuh senderan? Gih lari ke hutan, mumpung pohon-pohon belum ditebang. Eh hatimu jangan ikut ditebang, cukup pohon saja, periiiih.”

“Hahaha”

“Sini, sini peluk dulu…”

Padamu Yang Cahaya

Padamu yang cahaya aku percaya bahwa hidup tak perlu kucemaskan lagi. 
Mungkin tak pernah ada kita, hanya kau dan aku dan percakapan-percakapan pengisi sepi. 
Musim-musim yang bertukar peran menyisakan sedikit ruang untuk kita tuliskan. Entah sebagai puisi entah sekedar basa basi. 
Jika kelak kau lupa tak mengapa, aku saja yang mengingatnya. Merawat apa-apa yang sengaja ditingalkan waktu dan ditanggalkan rindu. 
Padamu yang cahaya aku percaya bahwa bertemu denganmu adalah salah satu cara Tuhan mencintaiku.

Kita

Kita mungkin hanya kebetulan-kebetulan yang disiapkan semesta. Aku tak kuasa. Sungguh tak kuasa. 
Bahkan bercangkir-cangkir kopi dalam perjamuan malam menuju larut dan tebal dinding yang dibangun waktu tak sanggup menyembunyikan rindu. Pun puisi-puisi tak menjamin akan membuat rindu jatuh direngkuhmu, mungkin hanya akan layu, mengering lalu mati di jalan aspal depan rumahmu.

Diambil dari : https://www.qureta.com/post/


EnglishIndonesianJapaneseKorean